Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Mengenal Janissari, Pasukan Elit Pengawal Sultan Ustmani

SEPTEMBER 23, 2019 - ADMIN

Ketika kita berbicara tentang wisata di Turki maka kita juga akan disuguhi sejarah Turki saat masa kejayaan. Dan diartikel kali ini kami akan membahas salah satu bagian sejarah Turki terutama ditatanan pasukan elitnya. Ya, Janissari (dalam Bahasa Turki, Yeniceri) adalah sebutan untuk pasukan elit lingkar pertama pengawal pribadi sultan Ustmani zaman dahulu. Dalam Bahasa Turki, “Yeni” artinya baru dan “ceri” artinya pasukan. Secara harfiah Janissari berarti pasukan baru.

Dari sudut pandang sejarah, hal ini barangkali mengacu pada metode perekrutan Janissari ataupun bahwa Janissari merupakan pasukan-pasukan baru yang hanya loyal kepada Sultan. Sebelumnya, komposisi pasukan bersenjata Turki Ustmani berasal dari orang-orang suku Turcoman yang secara umum masih loyal kepada pemimpin klan mereka. Hal ini umum terutama pada masa Sultan Orhan Ghazi atau Sultan Murat I.

Seiring berjalannya waktu, ketika Ustmani mulai memiliki bentuk negara yang tanak, Sultan merasa perlu memiliki pasukan pribadi yang digaji oleh kekhalifahan dan hanya loyal kepada Sultan. Berkembanglah sistem devsirme. Devsirme adalah sistem adopsi dan pelatihan anak-anak non-muslim dari daerah-daerah yang ditaklukkan Ustmani pada masa itu. Anak-anak terbaik diadopsi oleh istana dan diberikan pelatihan terbaik yang memang dispesialisasikan untuk menjadi tentara pribadi Sultan. Dengan sistem ini, sultan bisa memastikan loyalitas Janissari hanya kepada Sultan dan kekhilafahan dibandingkan dengan merekrut orang-orang dari suku Turcoman yang masih memiliki loyalitas kepada pemimpin klannya.

Hal tersebut tak lain adalah untuk meminimalisir kemungkinan terburuk, yaitu pemberontakan. Pada 200 tahun pertama eksistensi Janissari, para pasukan elit ini-lah yang memiliki andil besar dalam penaklukan-penaklukan yang dilakukan Ottoman. Kala itu, terdapat regulasi khusus yang membuat kehidupan Janissari terisolasi dari kehidupan masyarakat sipil pada umumnya. Mereka hanya difokuskan untuk melayani sultan. Pengabdian semacam itulah yang sempat menjadi momok di Eropa. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu sistem ini menjadi tak begitu ketat dan pada akhirnya m





nampakkan kelemahannya juga. Perekrutan selanjutnya, tidak dikhususkan bagi anak-anak non-muslim kembali, melainkan juga dari anak-anak muslim.

Pada 1826, jumlah Janissari yang ada mencapai 135.000 orang. Untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka, para Janissari sudah melakukan hubungan dagang dan ikatan yang kuat dengan masyarakat sipil, yang selanjutnya berakibat melunturkan loyalitas mereka pada Sultan. Ketika mereka akhirnya mereka beraliansi dengan kelompok konservatif yang ingin menggulingkan Sultan, mereka melakukan upaya revolusi. Namun, upaya itu berhasil diredam oleh Sultan. Kala itu, yang memimpin adalah Sultan Mahmud II. Sultan lalu meredam pemberontakan itu dan sebagian besar Janissari yang gagal dalam upaya pemberontakan itu, akhirnya terserap dan membaur menjadi masyarakat sipil biasa.

Terpisah dengan Janissari, Kekhalifahan Ustmani juga pernah mengenalkan sistem wajib militer. Ketika diperlukan, setiap kota dan desa harus mempersiapkan para pria yang memenuhi syarat untuk turun ke medan Jihad. Konsep ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi kaum muslimin, karena pada zaman Rasulullah pun demikian. Bahkan, lelaki yang secara hukum wajib turun berjihad namun enggan atau malah kabur dari peperangan bisa dihukumi murtad. Pada zaman Ustmani, pasukan irregular wamil yang berasal dari kalangan sipil ini disebut sebagai “Azabs”. Pada prakteknya, pasukan ini bukan hanya dialokasikan untuk turun berjihad di garis depan, melainkan juga untuk kepentingan pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jalan, jembatan, rel kereta api, atau kepentingan logistik yang bisa menunjang pasukan utama dari kalangan militer untuk berjihad di garis depan. Bahkan, ada divisi dari “azabs” yang berasal dari kalangan tunawisma dan criminal yang disebut sebagai “Ba?ibozuk”.

Menarik sekali ketika mengulik sejarah Turki, dan jika Anda ingin mengenal lebih dekat tentang Turki, wisata dan sejarahnya, Anda bisa bergabung di paket wisata umroh plus Turki atau paket wisata The Herritage Of Ottoman

 

foto : pexels