Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Lombok, Pulau Seribu Masjid

FEBRUARY 02, 2019 - ADMIN

Memiliki kesempatan menginjakkan kaki ke Nusa Tenggara Barat merupakan hal yang luar biasa, banyak sekali tempat yang dapat dikunjungi sebagai tujuan wisata. Gunung, pantai, tempat bersejarah, bangunan unik ataupun budaya masyarakat setempat.

Setibanya di Bandar Udara Internasional Lombok di Selaparang, Mataram, kita dapat langsung menuju sebuah lokasi yang berkaitan dengan budaya setempat, yaitu Desa Budaya Sade. Tulisan Sade Village berwarna oranye menyambut setiap pengunjung yang hadir, keunikan dari lokasi wisata ini adalah rumah tradisional Suku Sasak yang alami dan terbuat dari dinding anyaman bambu serta beratap jerami.

Desa yang masih menjaga tradisi adat istiadat bisa dilihat dari keunikan bangunannya, terdapat sekitar 150 bangunan tradisiona di atas tanah seluas kurang lebih 5,5 hektar. Namun kita dapat menemui pula ibu-ibu yang bekerja menenun kain songket Lombok yang terkenal. Tidak hanya menjadi kain, beragam jenis kerajinan lainnya juga ada, seperti dompet, tas atau baju tenun khas Lombok yang semuanya dijual bagi wisatawan yang datang ke Lombok.

Selain keunikan bangunan, masyarakat Desa Sade memiliki cara tersendiri yang tidak biasa dilakukan masyarakat pada umumnya dalam merawat rumahnya. Setiap seminggu sekali atau pada waktu tertentu lantai rumah dibersihkan dengan menggosokkan campuran kotoran kerbau dan sedikit air pada lantai rumah hingga kering kemudian lantai disapu dan digosok dengan batu. Kotoran kerbau ini bermanfaat untuk membersihkan lantai rumah dari debu dan agar lantai terasa lebih halus dan menjadi lebih kuat. Penduduk Desa ini memiliki kepercayaan dengan menggunakan kotoran kerbau dapat mengusir serangga serta mencegah serangan teluh (black magic) yang ditujukan kepada anggota keluarga.

Wisatawan yang pernah datang ke Desa Sade, umumnya mengunjungi pohon cinta yang terletak di tengah desa. Pohon yang tumbuh tanpa daun dan di sekitarnya tersusun batu melingkar. Masjid yang ada di Desa Sade memiliki keunikan dengan atap tumpang tiga dari bahan jerami pula. Kunjungan ke Desa Sade akan memberikan pengalaman otentik yang luar biasa  dengan berbagai kekhasan di dalamnya.

Setelah berkeliling desa, kita dapat melanjutkan perjalanan menuju Islamic Center atau Masjid Hubbul Wathan. Pulau Lombok dikenal sebagai pulau seribu masjid, ini tidak lepas dari peran Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau dikenal dengan dengan Guru Pancor dan masyarakat menjulukinya sebagai Abul Masajid wal Madaris atau Bapak dari Masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Beliau mendirikan organisasi Nahdhatul Wathon atau Kebangkitan Bangsa pada tahun 1953. Melalui organisasinya inilah banyak terjadi pembangunan masjid dan madrasah di seantero Lombok dan Sumbawa pada khususnya.

Pembangunan masjid Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air) adalah untuk menunjukkan wujud masyarakat Nusa Tenggara Barat yang dekat dan cinta dengan masjid dan tanah airnya. Melihatnya dari jauh saja sudah bisa membuat terkesima, apalagi kalau kita memasuki Masjid Hubbul Wathan. Desain masjid yang mengagumkan sentuhan langit-langit masjid ini bercorak batikcat di dinding dan menaranya bernuansa keemasan memberikan kesan geudng yang megah. Dikelilingi lima menara, salah satu menaranya setinggi 99 meter yang menandakan asmaul husna, dari menara ini wisatawan dapat melihat sekeliling Kota Mataram dari menara tertinggi di Lombok.

Dari tujuan ke masjid ini bisa ditutup dengan wisata kuliner di sekitar Kota Mataram sebelum kembali ke penginapan.

Selain Desa Sade, Lombok masih menyediakan Desa Adat Karang Bayan sebagai desa wisata. Desa ini merupakan basis dari suku Sasak. Memasuki ke dalam desanya wisatawan melalui jalan setapak berjarak sekitar 100 meter. Umat Islam yang menetap di desa ini dikenal dengan Islam Waktu Telu, mereka mengerjakan shalat di tiga waktu, yaitu zuhur ashar

Saepul Latif



an maghrib. Peninggalan kuno yang ada di desa ini salah satunya adalah masjid kuno yang sudah berdiri sejak 400 tahun lalu.

Meski tidak menggunakan semen, fondasi yang terbuat dari tanah lempung dan batu gunung tersebut tetap berdiri kokoh dan uniknya ia memiliki ketinggian dua meter seperti bangunan khas Suku Sasak. Hanya jerami yang menjadi atapnya saja yang sering diganti untuk menjaga bangunan tersebut.

Dari Karang Bayan, perjalanan menarik lainnya adalah menikmati pemandangan Pulau Lombok di Hutan Lindung Sesaot. Sebuah kawasan asri yang dipenuhi dengan tanaman hutan alami dan hutan buatan. Di dalamnya ada mata air jernih dari Gunung Rinjani. Keistimewaan dari mata air ini adalah tidak kering walaupun memasuki musim kemarau. Dengan luas hutan sekitar 6000 hektar, wisatawan bisa menyegarkan diri seperti di tengah hutan tropis. Banyak spot yang dapat dijadikan tempat untuk merekam keindahannya ke dalam foto.

Wisatawan masih bisa melanjutkan perjalanan ke Jurang Malang di lokasi yang sama, Desa Sesaot. Ada bangunan unik yang dibangun oleh Ang Thian Kok, seorang mualaf keturunan Cina. Ia membangun sebuah musholla dengan gaya klenteng. Setelah masuk Islam, ia berganti nama menjadi H. Muhammad Maliki dan istrinya, Tee Mai Fung berganti nama menjadi Hj. Siti Maryam.

Niat pembangunannya adalah ingin menginspirasi dengan bentuk bangunan musholla bergaya Cina sebagai bentuk keragaman Islam di Indonesia dan mewakili identitas etnik pendiri bangunannya.

Sebelum kembali ke penginapan, wisatawan dapat mampir di tengah perjalanannya untuk melihat Air Terjun Benang Kelambu. Di sekitar air terjun, masyarakat setempat banyak menanami berbagai jenis pohon yang menarik.

 

Di hari selanjutnya, wisatawan dapat berwisata ke daerah Sekotong. Di sekitar Sekotong ada beberapa pulau kecil atau Gili, penduduk biasa menyebutnya begitu. Ada tiga gili yang akan dituju, Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Kedis.

Tujuan wisata yang menarik di ketiga gili adalah wisata pantai, baik keindahan pantai maupun bawah lautnya. Dengan butiran pasir putih dan pemandangan, wisatawan akan dimanja dengan keindahan alam yang asri. Perahu-perahu nelayan siap mengantar para wisatawan yang berkunjung sehingga bisa merasakan pengalaman yang sangat berarti dengan otentisitas masyarakat setempat.

Diawali dengan snorkeling yang berada di Gili Nanggu, ombak di sekitar pulau ini biasanya cukup ramah sehingga aman pula bagi wisatawan yang berkunjung bersama keluarganya. Para wisatawan dapat menghabiskan waktunya hingga siang hari sebelum meluncur bersama perahu menuju Gili Sudak.

Di Gili Sudak, wisatawan dapat mencicipi dengan menu makanan khas daerah laut, seperti cumi, udang, dan ikan. Sedangkan di gili yang terakhir dikunjungi adalah tempat yang pas untuk menikmati selfie dan merekam spot-spot indah di sana. Wisatawan bisa menikmati dan merekam banyak spot yang tak terlupakan sepulang dari berlibur di Lombok.