Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Kampanye Untuk Buka Puasa

MAY 10, 2019 - ADMIN

Pengalaman baru itu sangat berharga, menyehatkan otak dan meningkatkan kebahagiaan. Ramadhan ketiga di Madinah, tim Family Spiritual Journey (FSJ) dari Royal Indonesia memberikan pengalaman baru bagi para peserta. Selain city tour, dapat Al Quran gratis dari Percetakaanya langsung, sesi inspirasi yang menggugah, juga ada berbuka puasa bersama di Masjid Nabawi.

Saat Ramadhan, orang di Madinah berlomba menawarkan buka puasa gratis kepada semua jamaah yang berbuka puasa di masjid Nabawi. Lima ratus ribu lebih jamaah yang berbuka puasa semua kebagian jatah, bahkan ada yang bisa membawa bungkusan untuk dibawa pulang. Biasanya jamaah umroh backpacker yang membawa makanan “jatah” ini untuk dibawa ke penginapan mereka.

Kami pun mendapat tawaran untuk ikut berbuka puasa secara cuma-cuma itu. Saat saya dan rombongan FSJ memasuki pelataran masjid, beberapa orang mendatangi kami untuk mengajak kami berbuka puasa dengan menu yang sudah mereka siapkan. Mereka merayu (berkampanye) dengan sangat piawai. Menawarkan berbagai kelebihan dari menu yang sudah mereka siapkan.

Hari sebelumnya (Ramadhan ke 2 di Madinah) kami menerima tawaran juru kampanye yang menawarkan berbuka puasa dengan fasilitas; di halaman masjid, air mineral, juice, kurma, a

Saepul Latif



el, pisang dan nasi biryani.

Di ramadhan ketiga, kami menerima tawaran dari juru kampanye lain yang menawarkan: tempat adem, nyaman, di dalam masjid, air zam-zam, kurma, roti dan yoghurt serta kopi Arab. Semua janji juru kampanye yang dijanjikan kepada kami sebelum kami memutuskan memilih mereka, ternyata benar-benar dipenuhi. Sungguh bahagia melihat semangat berbagi di masjid Nabawi ini. Mereka berlomba ingin mendapatkan besarnya pahala memberi makan orang yang berbuka puasa.

Saya rasa, berlomba untuk memberikan berbuka puasa bahkan sampai menggunakan juru kampanye untuk meyakinkan orang lain agar berbuka puasa dengan menu yang mereka siapkan patut dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Dan saya yakin pula, bila kebiasaan ini diterapkan di Indonesia tidak ada satu pun yang melarang atau menuduh bahwa kebiasaan baik ini merupakan “budaya Arab” yang tidak layak ditiru.

Mari kita contoh kebiasaan baik ini. Mulailah dari lingkungan Anda. Mau?

Salam SuksesMulia

by Jamil Azzaini adalah CEO Kubik Leadership