Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Kainan 1890, Kisah Persahabatan Lintas Masa Antara Turki Ustmani & Jepang

OCTOBER 31, 2019 - ADMIN

Ketika kita coba mengkaji sejarah Jepang dan kebersinggungannya dengan sejarah dunia, maka biasanya artikel-artikel di Internet akan mengarahkan kita ke periode perang dunia ke-II di wilayah Asia Pasifik. Dimana penyerangan Jepang terhadap pangkalan laut Amerika di Pearl Harbor menandakan keterlibatan Jepang di perang dunia II. Namun, bila kita coba tarik ke beberapa abad sebelumnya, yaitu sekitar abad ke-15 Jepang masih merupakan negara yang asing di peta geopolitik dunia, bahkan Jepang sempat mengisolasi dirinya dari dunia dan masih berkutat dengan konflik internal bangsanya, yaitu upaya unifikasi keseluruhan wilayah Jepang di bawah satu pemerintahan.


Di saat yang kurang lebih bersamaan, sekitar abad ke-15 sampai akhir abad ke-18 Turki Ustmani justru merupakan salah satu “pemain besar” sejarah dunia. Di mana kekuatannya diperhitungkan dan disegani. Bahkan mendominasi kekuatan militer dunia. Keberhasilan-keberhasilan penaklukan dan syiar Islam ke wilayah yang sekarang ini merupakan wilayah Eropa oleh Turki Ustmani kala itu merupakan alasan mengapa kekhalifahan Turki Ustmani disegani kala itu. Sampai ketika Turki Ustmani memasuki fase kemunduran ketika Islam mulai ditinggalkan oleh penduduknya, yaitu sekitar akhir abad ke -18 sampai awal abad ke-21.


Kita mungkin menyangka bahwa di masa lalu, Jepang dan Turki Ustmani tidak memiliki hubungan apapun. Mengingat secara geografis kedua negara besar ini letaknya saling berjauhan (Letak Jepang terlalu jauh di timur dari teater utama sejarah dunia yang sedang berlangsung di dunia tengah). Selain itu, Jepang juga belum-lah terlibat di percaturan geopolitik dunia sekitar abad ke-15. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di sekitar akhir abad ke-19, tepatnya di tahun 1890, upaya menjalin hubungan pernah terjadi di antara dua negara besar ini, Kekhalifahan Turki Ustmani dengan Kekaisaran Jepang. Lewat film “Kainan 1890” atau “125 Years Memory” (judul versi rilis Internasional), sutradara Mitsutoshi Tanaka mencoba memvisualisasikan 125 tahun hubungan Jepang-Turki yang dramatis, lintas masa, dan penuh kebanggaan.


Film ini dibagi menjadi dua segmen. Segmen pertama menceritakan seorang Kapten kapal militer Kekhalifahan Ustmani bernama Mustafa yang ditugaskan untuk berlayar ke Jepang untuk membalas kunjungan kehormatan Kaisar Jepang. Diceritakan bahwa kunjungan balasan tersebut sangat mempengaruhi kehormatan Ustmani yang tengah menghadapi tekanan dari Eropa. Di mana, rute perjalanan tersebut akan melalui negara-negara Muslim di bawah kepemimpinan Ustmani, seperti India dan negara-negara Asia Tenggara. Ayah Mustafa yang merupakan salah seorang perwira tinggi di kesatuan tersebut terus menekankan bahwa ia harus kembali dengan selamat ke Istanbul dan bahwa pelayaran tersebut membawa kehormatan kekhalifahan.


Kapal Ertugrul, sebuah kapal yang sudah cukup tua, yang Mustafa dan kru-nya tumpangi untuk pelayaran ke Jepang berangkat dari Istanbul pada 14 Juli 1889. Kapal tersebut dipimpin oleh Kolonel Osman dan membawa 618 kru. Perjalanan berangkat berlangsung selama hampir 11 bulan dan berjalan dengan tidak terlalu banyak halangan berarti. Kapal Ertugrul sampai di Jepang sekitar Juni 1890 dan secara resmi diplomat Ustmani menyambangi Kaisar Jepang. Mekipun begitu, Ertugrul yang sudah cukup tua, mendapatkan banyak kerusakan pada saat perjalanan berangkat.


Perjalanan pulang menjadi salah satu klimaks cerita di film ini. Pada 15 September 1890, kapal Ertugrul bertolak dari pelabuhan Yokohama setelah sebelumnya tertunda kepulangannya karena para kru kapal terserang penyakit kolera. Bulan-bulan itu merupakan musim badai topan di Jepang. Diluar perkiraan, kapal Ertugrul yang baru sehari bertolak dari Yokohama harus berhadapan dengan badai, masih di sekitar perairan Jepang. Pada 16 September 1890, tengah malam, Ertugrul berhadapan dengan badai yang sangat besar hingga mengakibatkan banyak kerusakan fatal. Puncaknya, kapal Ertugrul terdorong dan menghantam bebatuan di Kashinozaki, pulau Kii-Oshima, Jepang. Insiden itu menghancurkan kapal Ertugrul dan menewaskan mayoritas penumpangnya, termasuk Kolonel Osman.


Penduduk pulau Kii-Oshima yang malam itu tengah terjaga menunggu badai reda, dikagetkan dengan suara ledakan yang sangat besar dari arah pantai. Tanpa pikir panjang, para penduduk langsung berhamburan ke pinggir tebing bebatuan. Betapa kagetnya mereka melihat banyak tubuh manusia tergeletak di bebatuan di antara puing-puing kapal yang sudah hancur. Beberapa di antaranya masih bergerak dan mengerang kesakitan.





enduduk pulau Kii-Oshima langsung bahu membahu menyelamatkan awak kapal Ertugrul yang masih bisa diselamatkan saat itu juga.


Dikisahkan bahwa penduduk pulau Kii-Oshima notabene merupakan penduduk pulau kecil yang miskin. Mayoritas mata pencaharian mereka adalah nelayan. Meskipun begitu, dalam film ini digambarkan bahwa penduduk pulau ini sangatlah bersahaja, ramah, dan saling peduli dengan sesamanya. Ketika penduduk pulau Kii-Oshima dihadapkan dengan situasi seperti ini, nyatanya mereka tetap menolong dan merawat para korban karamnya kapal Ertugrul meskipun persedian mereka sendiri habis. Dari 618 kru, hanya 69 orang yang dapat terselamatkan, termasuk Mustafa.


Scene-scene berikutnya menggambarkan kemurahan hati dan ketulusan penduduk pulau Kii-Oshima dalam merawat dan menjamu para korban yang selamat. Mereka tak segan membagi makanan dan pakaian yang mereka punya yang sebetulnya mereka sendiri butuhkan. Orang yang dihormati di pulau tersebut adalah seorang Dokter yang memang sengaja mengabdi di pulau Kii-Oshima. Dokter tersebut bernama Sensei Tamura. Sensei Tamura-lah yang memberikan perawatan dan pengobatan secara gratis sampai para korban benar-benar pulih, dibantu oleh para penduduk pulau Kii-Oshima. Sampai ketika sahabat Sensei Tamura yang merupakan seseorang dari angkatan laut Jepang mengetahui insiden tersebut dan melaporkannya ke otoritas Jepang. Puncak dari segmen satu ditutup dengan dijemputnya para korban selamat oleh otoritas Jepang untuk dibawa ke pelabuhan Kobe sebelum akhirnya diantarkan kembali kembali ke Turki Ustmani. Scene penutup segmen pertama merupakan scene yang penuh keharuan karena para korban selamat kapal Ertugrul dan penduduk pulau Kii-Oshima harus berpisah setelah sekian lama menjalani perawatan dan menjalin koneksi batin. Kelak kisah karamnya Ertugrul dan kemurahan hati bangsa Jepang tersebut menjadi sangat terkenal di Turki Ustmani karena Sultan Abdul Hamid II sangat menghargai dan bahkan memuat kisah tersebut di surat kabar Ustmani.


Segmen kedua pada film ini berlatarkan waktu 95 tahun kemudian, tepatnya pada 1985, jauh setelah Kekhalifahan Ustmani telah runtuh pada 1924. Segmen ini berlatarkan tempat di Teheran, Iran pada masa perang Irak-Iran. Presiden Saddam Hussein telah mengeluarkan ultimatum bahwa pesawat manapun yang terbang di wilayah udara Iran pada masa setelah diberlakukannya ultimatum tersebut, akan ditembak jatuh. Negara-negara yang penduduknya berada di Iran pada masa perang tersebut, langsung mengambil langkah evakuasi penduduknya. Satu persatu pesawat dari negara-negara yang memiliki kedutaan di Iran terbang membawa penduduknya kembali ke kampung halaman. Pesawat terakhir yang datang untuk mengevakuasi adalah pesawat Turki, beberapa jam sebelum ultimatum itu berlaku.


Di lain sisi, masih terdapat sekitar 300 penduduk Jepang yang masih terjebak di Teheran. Pemerintah Jepang sayangnya tidak mengambil langkah evakuasi penduduknya karena menilai lebih beresiko mengirimkan pesawat evakuasi pada saat itu. Penduduk Jepang yang frustasi terjebak di bandara. Sementara, di bandara masih terdapat penduduk Turki yang sedang menunggu pesawat evakuasi terakhir. Tanpa terduga, seorang pemuda bernama Murat yang bekerja di Kedubes Turki tegak berdiri di hadapan kerumunan penduduk Turki yang sedang menunggu pesawat evakuasi mereka. Ia mencoba meyakinkan bahwa para laki-laki dari mereka masih bisa menggunakan jalur darat untuk kembali ke Turki dan memberikan tumpangan pesawat ke penduduk Jepang yang masih terjebak tanpa kepastian. Awalnya, ia mengalami penolakan dan cacian. Namun, setelah ia terus mencoba meyakinkan dan bahwa perjalanan darat pun akan dijamin oleh pemerintah Turki, akhirnya para penduduk Turki tersebut memperlisahkan orang-orang Jepang yang masih terjebak tersebut untuk menumpangi pesawat mereka. Dan para lelaki dari penduduk Turki bersedia mengambil jalur darat menggunakan mobil.


Scene pada segmen kedua ini lagi-lagi merupakan salah satu scene yang penuh haru dan bangga. Para penduduk Turki mempersilahkan penduduk Jepang yang masih terjebak di bandara untuk menumpangi pesawat mereka. Hal ini mengingatkan kembali kehangatan dan ketulusan warga Jepang pada leluhur bangsa Turki di peristiwa karamnya kapal Ertugrul.


Film Kainan 1890 ini merupakan kerjasama antara pemerintah Turki dan Jepang. Film ini dirilis pada 2015 akhir di Turki dan Jepang sebagai pengingat antara persahabatan Turki-Jepang yang sudah berlangsung 125 tahun lamanya. Dan tentunya, film ini mengajarkan bahwa ketulusan dan kebaikan akan terus dikenang berabad-abad lamanya. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film ini.