Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Banyuwangi, Dari Batik Untuk Mengingat Allah (banyuwangi, From Fashion To Passion For Zikrullah)

FEBRUARY 02, 2019 - ADMIN

Banyuwangi, kota di ujung timur Pulau Jawa, merupakan pelintasan masyarakat yang ingin ke Pulau Bali melalui jalur laut. Pesona alamdan budayanya juga tidak kalah indah dari Pulau Bali.

Asal usul nama Banyuwangi bermula dai masa kejayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan saat Blambangan menjadi vassal dari Kerajaan Bali (1763-1767), Perusahaan Dagang Belanda, VOC tidak tertarik untuk memasuki Blambangan. Namun adanya persaingan antara Perusahaan Dagang Inggris dan Belanda, memaksa VOC memasuki wilayah Blambangan. Masuknya Belanda ke Blambangan mendapatkan penolakan dan perlawanan dari rakyat Blambangan.

Puncaknya adalah Perang Puputan Bayu pada 18 Desember 1771. Pangeran Puger, puta dari Wong Agung Wilis yang memimpin pasukan Blambangan gugur berikut sebagian besar keluarga Kerajaan Blambangan, sebagian lagi tertangkap pihak Belanda. Dari peristiwa tersebut lahirlah nama Banyuwangi.

Bandar perdagangan di Banyuwangi terus berkembang hingga kini dan semakin ramai. Belanda menjadikan wilayah di Tapal Kuda Pulau Jawa, biasanya untuk penyebutan bekas wilayah Blambangan sebagai daerah perkebunan. Sedangkan saat ini, wilayah tersebut terus berkembang dengan industri lainnya seperti industri kapal, perikanan, pariwisata dan lainnya.

Setibanya di Bandar Udara Blimbing di Banyuwangi atau stasiun kereta dan terminal bis di pagi hari, wisatawan dapat menikmati hidangan selamat datang di restoran bernuansa menu masakan Indonesia. Setelah menyelesaikan makan pagi sambil beristirahat sejenak, kita dapat mengunjungi Pendopo Sabha Swagata Blambangan, atau rumah dinas Bupati Banyuwangi saat ini. Bangunan ini merupakan salah satu warisan sejarah di Banyuwangi dengan pesona bangunan tua yang mengesankan apabila kita telusuri.

Sejak masa Bupati Abdullah Azwar Anas, Pendopo ini mengalami pembenahan. Mulai dari membuka diri agar tidak ada sekat antara rakyat dan penguasa, pagar-pagar tinggi yang mengelilingi rumah dinas bupati dihancurkan, diganti dengan taman-taman indah. Pengunjung umum pun dapat menikmati keindahan rumah dinas bupati dengan meminta izin penjaga untuk dapat memasukinya.

Keterbukaan ini menjadikan pengunjung serasa di rumahnya dengan menikmati kesejukan taman dan pepohonan. Di sini banyak sekali spot untuk berfoto ria mengabadikan kunjungan ke Banyuwangi.

Usai sowan (berkunjung) ke Pendopo, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan ke pembuatan Batik Gajah Oling (Batik Home Industry). Banyuwangi dikenal dengan motif batik Gajah Oling, Dari asal katanya, kata itu merupakan gabungan kata dari gajah, dan oling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut). Ciri itu berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk oling. Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa). Dari arti katanya, gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti mahabesar. Sedangkan oling berarti eling, atau ingat. Jadi, gajah oling ini mengajak kita untuk selalu ingat kepada yang mahabesar, kepada Tuhan. Motif batik seperti di Banyuwangi ini tidak akan ditemui di daerah lain dan merupakan khas Banyuwangi.

Banyuwangi mendapatkan keberkahan keindahan alam, tidak hanya pegunungan, pantainya juga memiliki keunikan. Pantai Pulau Merah, masyarakat setempat menyebutnya Pulo Merah, terletak di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Hamparan pasri putihnya berwarna agak kecoklatan, namun di saat musim kemarau tiba kawasan pantai ini terlihat menjadi kemerahan.

Keunikan lainnya adalah adanya bukit kecil yang terletak tak jauh dari bibir pantai. De





gan latar bukit setinggi 200 meter dan berwarna kemerahan inilah yang menyebabkan pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Pulau Merah. Bukit ini diselimuti oleh tumbuhan hijau yang mampu menutupi warna merahnya. Anda dapat menaiki bukit tersebut pada ketika air laut sedang surut. Selain itu, terdapat bebatuan karang yang berada di sekitar bukit kecil ini.

Di bagian timur Pantai Pulau Merah terlihat jajaran Gunung Tumpang Pitu serta berada segaris dengan Pantai Plengkung. Wisatawan dapat menikmati semilir angin pantai serta menikmati panorama alam yang begitu indah. Wisata ini juga ditunjang dengan berbagai fasilitas untuk bercengkerama bagi keluarga. Bagi yang suka dengan olah raga renang pantai dan selancar (surfing) wilayah ini menjadi tempat yang cocok untuk berlibur.

Di penghujung petang, wisatawan dapat melihat keindahan terbenamnya matahari (sunset) yang begitu indah dengan kebersihan pantai pasir putih yang halus. Pengalaman yang bisa didapat dari kunjungan ini akan terasa lain walaupun kita pernah mengunjungi pantai-pantai lainnya di penjuru dunia.

Pada hari selanjutnya, wisatawan pun dapat menikmati keindahan alam pegunungan dengan mengunjungi Taman Nasional Baluran. Taman ini masih memiliki hutan tropis yang khas di Pulau Jawa dan keindahan padang rumput savana yang bisa menyejukkan pandangan mata bagi para pengunjungnya, sehingga disebut juga Africa Van Java.

Taman ini merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Dari luasnya padang Savana Bekol, sampai lebatnya hutan hijau Evergreen Forest, hingga keindahan bawah laut di Bama.

Dan juga ada beberapa destinasi lain seperti Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Manting, Dermaga, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Talpat, Kacip, Bilik, Sejileh, Teluk Air Tawar, Batu Numpuk, Pandean atau Candi Bang yang bisa anda kunjungi. Wisatawan dapat mengamati kehidupan hewan liar di Taman Nasional Baluran, juga merupakan sebuah pengalaman tersendiri.

Selain Baluran, Banyuwangi masih memiliki Gunung Ijen (2386 m) dengan kawahnya, merupakan gunung berapi komposit aktif yang terletak di dalam Pleistocene Ijen Caldera (kawah gunung berapi tua), di bagian paling timur pulau Jawa. Kawah Ijen terdiri dari danau hiperacid terbesar di dunia, beberapa debit termal dan fumarol kawah yang menghasilkan sulfur asli dalam jumlah yang signifikan. Kompleks kaldera Ijen berukuran sekitar 210 km2. Namanya dikaitkan dengan satu-satunya gunung berapi yang aktif saat ini dalam kaldera, Kawah Ijen. Kaldera mengandung lebih dari 15 post kaldera vulkanik.
kerucut menjadikannya salah satu daerah yang direkomendasikan di dunia untuk pemandangan vulkanik yang menakjubkan.   sekitar pukul 00:00 kami akan membawa Anda ke area istirahat Paltuding (1-1,5 jam). Jalan ini menawarkan sejumlah pemandangan ajaib di tengah-tengah sawah, desa-desa kecil dan satu lagi hutan hujan tropis primer terakhir yang tersisa di pulau Jawa yang dikelilingi oleh sejumlah gunung berapi. Anda terutama akan menikmati pemandangan tersebut di jalan kembali selama siang hari.

Dengan mendaki sekitar 1:30 -1: 45 menit atau sejauh sekitar 3 km setelah lereng landai dan sedikit menanjak untuk mencapai puncak. Jalur ini cukup terawat dengan baik dalam kondisi baik dan pemandangan lain dari gunung berapi yang membulat dan vegetasi mewah akan menemani perjalanan Anda. Di tepi kawah, sebaiknya wisatawan menggunakan masker gas untuk melihat api biru tepat di tepi danau asam (suhu danau: + - 40 ° c; Ph: 0,5; kedalaman maks: + -200 m). Ini juga merupakan sumber untuk sungai Banyupahit, menghasilkan air sungai yang sangat asam dan kaya logam yang memiliki efek merugikan yang signifikan pada ekosistem sungai hilir.a