Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


4 Kisah Ujian Dalam Surat Al Kahfi

AUGUST 16, 2019 - ADMIN

Empat Ujian Dari Allah Untuk Umat Manusia

Surat Al-Kahfi merupakan surat yang diturunkan di Mekkah, oleh Rasulullah SAW dianjurkan untuk ibaca umat Islam pada hari atau malam Jum’at dan ia akan mendapatkan keutamaan yang luar biasa dari Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits. Di antara haditsnya adalah, “Siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jum’at, (Allah) akan menerangi dengan cahaya antara dua Jum’at. “ (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqiy, dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dalam Takhrij al-adzkar)

Dalam surat ini ada empat ujian dari Allah dengan kisah utama dalam Surah Al Khafi tentang pemuda yang menyelamatkan keimanannya dengan bersembunyi di sebuah gua, yakni: 
1.Ujian Keimanan – Para Penghuni Gua 
2.Ujian Harta – Kisah Si Kaya dan Si Beriman 
3.Ujian sabar dalam mencari ilmu pengetahuan – Kisah Musa dan Nabi Khaidir
4.Ujian Kekuasaan – kisah Dzulkarnain dengan Ya’juj Ma’juj

1.Ujian keimanan


Surat ini mengisahkan tentang pemuda yang beriman di sebuah kota yang menyembah selain Allah SWT. Karena keyakinannya kepada Allah dilarang oleh sebagian besar rakyat Kota dan penguasanya, mereka sepakat untuk memutuskan meninggalkan negara atau kota tempat tinggal mereka. Dalam pelariannya, mereka menemukan sebuah gua dan bersembunyi di sana.

 

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Kisah ini untuk mengingatkan kepada uamt Islam tentang sejumlah pemuda yang beriman kepada Allah mencari tempat berlindung ke dalam gua, karena takut menghadapi fitnah dari kaumnya. Mereka dipaksa untuk menyembah berhala-berhala. Cara menyelamatkan keimanan mereka adalah dengan mengungsi dan memohon kepada Allah agar mampu mempertahankan keimanan.

Setelah berdoa kepada Allah SWT, mereka terlelap tidur, tidak terasa mereka tidur selama beatus tahun dan ketika mereka bangun seluruh kota telah menjadi kota yang memiliki keimanan kepada Allah SWT. Kesimpulannya adalah umat Islam harus memiliki keyakinan yang kuat di dalam dirinya, sebab Allah selalu datang untuk menyelamatkan dan membantu umat-Nya dengan mengurangi sebagian kesulitan yang dihadapi.


2.Ujian Harta
Sebuah kisah tentang orang berharta banyak dengan orang yang beriman. Dalam hidup selalu ada pilihan, jika dihadapkan pada hanya dua pilihan, manakah yang dikehendaki oleh manusia? Dalam surat Al Kahfi dikisahkan tentang perbincangan antara si kaya dan si beriman.
Kisah tentang dua orang bertetangga yang memiliki kebun anggur, satu dengan harta yang jauh lebih banyak dan satunya lagi adalah yang memiliki keimanan lebih kuat. Pria yang pertama adalah yang bangga atas kekayaan yang dilimpahkan kepada dirinya, sedangkanyang kedua adalah yang beriman dan bersyukur atas pemberian dari Allah SWT. Dengan kekayaan yang dimiliki, si Kaya merasa dirinya sebagai orang yang sukses dan bangga atas pencapaiannya, “Saya lebih besar dari Anda dalam kekayaan dan memiliki lebih banyak pelayan dan petugas dan juga anak-anak". Suatu hari ia pergi ke kebun dan memandangnya dan berkata: "ini tidak akan pernah lenyap ". Ia lupa mengatakan Insya Allah artinya jika Allah berkehendak!
Sebagai akibatnya, seluruh hartanya dirampas kembali oleh Allah SWT merampas semua bentuk harta dunia dan karunia dari Allah. Kesadarannya datang terlambat. Pelajaran dari kisah ini adalah bahwa semua kekayaan juga merupakan ujian dari Allah SWT. Harta sebenarnya adalah ujian bagi mereka apakah bersyukur kepada-Nya atau tidak.

 

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.

Bagi orang yang hanya mengejar kekayaan duniawi saja pada akhirnya hanya akan membolak-balikkan dua telapak tangannya sebagai ekspresi kekecewaan dan penyesalan terhadap apa yang ia kejar selamadi dunia. Pada saat bencana hadir, ia hanya akan berkata ”sekiranya aku menyadari nikmat-nikmat Allah dan kekuasaanNya, serta tidak menyekutukan sesuatupun denganNya.” ini adalah rasa penyesalan darinya tatkala penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi.  

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

3.Ujian Kesabaran dalam mencari Ilmu Pengetahuan 
Kisah ini merupakan pengalaman Nabi Musa AS ketika diperintahkan untuk menemui Nabi Khaidir dan menimba ilmu darinya. Nabi Khaidir adalah seorang shalih yang luas pengetahuannya, ia memberikansatu syarat kepada Nabi Musa agar selalu mengikuti caranya dan tidak mempertanyakan apapun yang dilakukan sampai ia menjelaskannya. Nabi Musa pun menyanggupi dan yakin atas kesabaran yang dimilikinya.
Berjalan mengikuti Nabi Khaidir ternyata bukan lah perkara mudah. Pertama, ia membolongi sebuah perahu, bagi Nabi Musa hal itu dapat membaha

Saepul Latif



akan penumpangnya. Lalu Nabi Khaidir mengingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan sabar dalam menimba ilmu dengan caranya Nabi Khaidir. Nabi Musa pun memohon maaf karena ia lupa akan janjinya.
Nabi Khadir menerima permohonan maafnya, kemudian mereka berdua keluar dari kapal itu. Ketika mereka berjalan di tepi laut, tiba-tiba mereka melihat anak kecil sedang bermain dengan sekumpulan anak-anak lainnya. kemudian Nabi Khadir membunuhnya. Sekali lagi, Nabi Musa menentang perbuatan Nabi Khadir dan berkata, ”Bagaimana engkau membunuh jiwa yang masih suci, belum mencapai usia taklif, sedangkan ia tidaklah membunuh satu jiwa sehingga pantas untuk dibunuh karenanya? sungguh engkau telah melakukan perbuatan mungkar yang besar. ” 
Nabi Khaidir mengingatkan kembali peraturan dalam mencari ilmu bersamanya. Nabi Musa pun memohon maaf kembali dan menyatakan bahwa tidak akan protes kembali, seandainya memprotes, maka itu adalah akhir pelajaran. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga menjumpai penduduk suatu kampung, untuk meminta makanan sebagai jamuan bagi mereka berdua. Namun penduduk kampung menolak menjamu dan memberi makanan untuk mereka berdua. Di sana mereka melihat rumah dengan dinding miring yang hampir roboh. Nabi Khaidir berinisiatif menegakannya hingga berdiri lurus. Nabi Musa berkata kepadanya, ”Jika engkau mau engkau bisa mengambil upah atas pekerjaan itu yang dapat engkau pergunakan untuk mendapatkan makanan untuk kita, karena mereka tidak memberikan jamuan kepada kita.” Selesailah pelajaran tersebut sesuai dengan kesepakatan karena komentar Nabi Musa.

“Khaidhir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu’; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Hikmah dari pelajaran yang diberikan Nabi Khaidir adalah, pertama, tentang kapal yang dilubangi, sebenarnya kapal tesebut milik orang-orang yang membutuhkan untuk alat mencari nafkah nelayan. Tujuan perusakannya adalah karena di hadapan mereka ada seorang raja lalim yang akan mengambil setiap kapal yang bagus dengan cara merampasnya dari para pemiliknya. 
Kedua, tentang anak kecil yang dibunuh. Anak tersebut kelak akan menjadi manusia kafir, sedangkan ayah-ibunya adalah orang-orang mukmin, maka kami khawatir bila anak itu tetap hidup justeru akan menyeret orang tuanya ke dalam kekafiran dan tindakan yang melampaui batas lantaran dorongan rasa cinta mereka kepada anaknya atau karena kebutuhan mereka kepadanya. Lalu kami memohon doa kepada Allah agar memberikan ganti bagi orangtuanya dengan anak yang lebih baik daripada anak tersebut dalam keshalihan, agama dan baktinya kepada mereka berdua.

Ketiga, tentang dinding rumah yang diluruskan agar tidak roboh. Sesungguhnya rumah itu milik dua anak yatim yang berada tinggal di sana. Ayah mereka adalah orang shalih dan di bawah rumahnya terdapat simpanan harta bagi mereka berdua berupa emas dan perak. Allah menghendaki agar harta tersebut tersimpan hingga mereka dewasa, memiliki kekuatan dan dapat mengeluarkan simpanan harta tersebut, sebagai rahmat dari tuhanmu terhadap mereka berdua. Sesungguhnya semua perkara yang diterangkan kepada Nabi Musa latar belakangnya merupakan akhir perkara-perkara yang Nabi Musa tidak mampu bersabar untuk tidak menanyakannya dan mengingkariku terhadap hikmahnya.  Semua yang dilakukan Nabi Khaidiri sesuai dengan perintah Allah. 
Belajar dari kisah ini bahwa tidak peduli berapa banyak pengetahuan yang Anda dapatkan, akan selalu ada seseorang yang telah diberkati oleh Allah dengan kelebihan. Jadi carilah pengetahuan sampai Anda dapat dan selalu meminta Allah untuk lebih banyak pengetahuan sehingga Anda dapat menggunakannya dan mengajarkannya kepada orang lain, insya Allah!

4.Ujian Kekuasaan bagi Dzulkarnain

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.

Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW akan ditanya oleh kaum musyrik tentang Dzulkarnain, maka Allah akan menceritakannya agar kisahnya dapat diingat dan diambil pelajaran darinya. 
Dzulkarnain telah diberi kekuasaan di muka bumi dari Allah dengan berbagai cara dan jalan dari segala sesuatu yang dia tempuh untuk mencapai apa saja yang dikehendakinya, berupa penaklukan berbagai kota dan mengalahkan musuh-musuh dan tujuan-tujuan lainnya. Allah memberikan kebebasan kepada Dzulkarnain untuk memperlakukan daerah taklukkannya agar mereka mendapat hidayah, yang dzalim akan disiksa sedangkan yang beriman akan dilindungi. Ia melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk membantu orang yang membutuhkan dan menyebar kebaikan di mana pun ia pergi. 

Dia adalah orang yang memberikan pertolongan kepada manusia dari ancaman Yajuj Majuj. Ia berkata kepada rakyat bahwa ada tembok yang dibangunnya dengan adalah rahmat dari Allah yang akan jatuh pada hari akhir dan kemudian Ya’juj Ma’juj akan keluar. Walaupun memiliki kekuasaan yang sangat luas, ia juga sangat rendah hati dan tahu bahwa semuanya ia peroleh dari Allah.

Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.

Kisah ini merupakan pelajaran yang harus menjadi pertimbangan kita kala memiliki kekuasaan, atas apapun. Bahwa semuanya bersumber dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tujuan kekuasaan adalah untuk kebaikan umat manusia jadi gunakanlah untuk membuat hidup lebih baik bagi orang di sekitar kita.

Wallahu a’lam Bisshawwab.