Chat Admin

Blog

informasi seputar wisata dalam negeri & mancanegara


Pantai Santen Dan Potensi Wisata Halal Yang Dicemburui

SEPTEMBER 11, 2019 - ADMIN

Oleh Imaduddin Indrissobir, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia

Pantai Santen di Banyuwangi membuat sebagian orang merasa risau, kehadirannya dikhawatirkan sebagai bagian dari pengaruh budaya arab (arabisasi) dan pengkultusan agama tertentu — lebih spesifik Islamisasi yang dianggap mengancam kearifan lokal. Pandangan tersebut merupakan opini prematur yang perlu diluruskan. Apalagi melempar tuduhan salah alamat, misalnya tentang PP JPH diajukan oleh Kemenpar untuk diteken Presiden sebenarnya diajukan oleh Kemenag sebagai pelaksanaan amanat UU no 33 tahun 2014.


Kesalahpahaman ini dapat dimaklumi mengingat minimnya informasi yang tepat tentang wisata halal bagi khalayak. Apalagi jika kita melihat lebih luas dalam kacamata global maka konsep pantai yang berdasarkan gender (khusus wanita) telah lebih dahulu diterapkan Pantai Ramini di Italia yang mayoritas beragama Katolik. Toh, kita tidak perlu gegabah menyebutnya sebagai proses pengkultusan agama tertentu — dalam hal ini Katolik. Sama halnya destinasi pantai yang menyediakan fasilitas khusus kaum Nudis juga tidak bisa digeneralisir sebagai proses Nudisisasi Wisata.

Besarnya potensi wisata halal dunia adalah alasan banyak negara di dunia termasuk negara non-OKI berlomba merebut pasar muslim. Sebagaimana dilaporkan Global State of Islamic Economy Report 2018/2019, Global Moslem Travelling Index 2019 pada tahun 2017 menyentuh angka $ 177 B (Rp. 2500 T) dan diperkirakan meningkat hingga $ 274 B (Rp. 4000 T) pada tahun 2023. Dengan populasi muslim dunia sebesar 1.7 Milyar atau sekitar 20 % populasi dunia, wisata halal adalah potensi ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata, telah beralih dari niche menjadi mainstream market.


Banyuwangi merupakan success story daerah yang menjadikan pariwisata sebagai leading sector menggerakkan sektor-sektor lainnya. Jika merujuk SICTA-WTO (Standart International Classification of Tourism Activities - World Trade Organization) Pariwisata memberikan dampak ekonomi yang besar mencakup 185 kegiatan usaha yang sebagian besar dapat dijangkau UKM.

Berkat pembangunan pariwisata, Banyuwangi berhasil meningkatan pendapatan daerah hingga 134 persen. Sementara produk domestik bruto juga mengalami kenaikan dari Rp 32 triliun, menjadi Rp 78 triliun. Pendapatan perkapita rakyat Banyuwangi naik lebih dari 100 % dari Rp 20,8 juta menjadi Rp 48,7 juta.
Pada tahun 2018, perekonomian kabupaten di Jawa Timur ini makin melesat. Pertumbuhannya berada di level 5,6%, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,53% dan unggul 0,15% dari Jawa Timur. Jumlah pengangguran terbuka turun 50%. Tingkat pengangguran berada di angka 3,07%. Padahal, direntang 2010-an, angka pengangguran terbuka masih ada di angka 6%. Tingkat kemiskinan tinggal menyisakan angka 8,64%, dari sebelumnya 8 tahun lalu 20,09%. Banyuwangi benar-benar berubah menjadi daerah yang maju melalui Pariwisata
Standarisasi Pariwisata Halal


Halal berasal dari kat

Saepul Latif



Arab, yang kini digunakan secara meluas di seluruh dunia termasuk negara-negara berpenduduk mayoritas non muslim menggunakannya sebagai layanan untuk mendatangkan wisatawan mancanegara dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Timur Tengah, Eropa, Australia agar mereka nyaman berwisata dengan tetap menjalankan kewajiban dan menjaga dari larangan agama.

Penting dipahami oleh para pemangku kebijakan, pelaku usaha dan masyarakat, bahwa wisata halal bukanlah produk hukum agama, tetapi lebih dekat kepada extended services and facilities for muslem’s travelers. Penyediaan jaminan kehalalan di lingkungan destinasi pariwisata, misalnya makanan dan minuman halal, tempat dan fasilitas sholat, berwudhu, istinja’ (bersuci) dengan toilet basah, penunjuk kiblat, destinasi dan atraksi ramah keluarga adalah facilities dan services yang merangkum wisata halal. Untuk mewujudkan ekspektasi travelers tersebut, Kemenpar akan menerbitkan Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Halal sebagai acuan para pelaku usaha dan pihak-pihak terkait dalam memberikan pelayanan.


Globalisasi Wisata Halal dan Kearifan Lokal
Sebelum 2017, Kawasan Pantai Santan adalah tempat kumuh yang digunakan sebagai lokalisasi untuk menjajakan seks komersil. Hal ini selain berlawanan dengan hukum, moral, tidak ramah keluarga, juga mengabaikan aspek sosial budaya, adat istiadat masyarakat Banyuwangi yang dikenal relijius. Pemerintah akhirnya menutup lokalisasi dan mengubahnya menjadi destinasi wisata halal yang ramah keluarga. Lalu, apakah wisata halal berbenturan dengan budaya lokal di Banyuwangi? Seorang Indonesianis, Martin van Bruinessen menulis tentang globalisasi di Indonesia, bahwa budaya lokal cenderung pasif terhadap arus globalisasi. Dialektika melalui asimilasi budaya di Pantai Santen terjadi secara alamiah.


Kesadaran masyarakat untuk menerima konsep wisata yang sesuai dengan kebutuhan pasar dengan tetap menjunjung tinggi etika dan budaya setempat telah tumbuh, sehingga masyarakat pun merasakan manfaatnya.
Memperhatikan kearifan lokal agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat sekitar atraksi dan destinasi merupakan kode etik pariwisata dunia yang telah diratifikasi oleh UNWTO.

Kekayaan relijiusitas budaya Banyuwangi dapat dilihat salah satunya pada ekspresi motif batik tertuanya; Gajah Oling. Asal kata dari gajah dan oling (sejenis ular air /belut). Secara filosofis gajah merepresentasikan besar/maha besar sedangkan oling (eling) adalah ajakan untuk selalu ingat, jadi selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Besar.
Tahun 2018, kami kedatangan lima vlogger asal Rusia yang menikmati kunjungan wisata di Banyuwangi. Uniknya mereka berasal dari latar belakang agama yang berbeda; Yahudi, Kristen Ortodoks dan Islam, namun semuanya sepakat bahwa wisata halal sejalan dengan konsep dalam agama mereka. Mereka terkesan pada keindahan alam dan keramahan masyarakatnya serta antusias menceritakannya kepada netizen Rusia
Kini kembali kepada kita, konsep wisata mana yang akan kita pilih.